Rabu, 03 Juli 2013

Oleh-oleh dari pendakian Semeru bertabur hikmah

Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S An Nahl : 15)

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Q.S AL Luqman : 10)


Alhamdulillah sabtu , ahad kemarin tanggal 29-30 Juni 2013 saya bersama teman2 Santika mendapat kesempatan mendaki gunung Semeru, dia termasuk salah satu resolusiku 2013.. Alhamdulillah tercapai dan tercoretlah resolusi itu. Ada banyak hal yang hendak tertoreh disini sebagai oleh2 pendakian kami selama 2hari 2malam memperoleh banyak hikmah, cerita, teguran dan bahkan kesyukuran yang tak terhingga.

Sungguh Allah Maha Pencipta itu semuanya dengan keteraturannya, 2 ayat awal yang kukutip di atas serasa benar sekali ayat itu kami rasakan ketika langkah-langkah kaki kami menapakinya, gunung yang sangat kokoh berdiri tegak, bahkan ketika kita hendak menempuhnya selalu ada rasa kelelahan sebab naiknya yang membuat kaki terasa berat untuk terus mendaki, dalam benak diri saat pendakian selalu bertanya mengapa sih gunung itu tidak mau menerima amanah kekhalifahan dari Allah seperti dalam surat Al Azhab ayat 72 dengan arti :

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,


Ya mengapa mereka semua enggan menerima amanah itu sehingga berani-beraninya manusia menerima amanah sebagai khalifah jika manusia tak mengerti pastilah ia dzalim sekali. Gunung yang begitu tinggi dan untuk mendakinya saja butuh perjuangan yang luar biasa dari manusia. Gunung saja yang butuh perjuangan untuk kita daki menolak amanah itu dan kemudian diberikan kepada manusia bukankah berarti manusia itu memang makhluk yang HARUS SIAP MEMIMPIN DUNIA. Begitu dzalimnya manusia jika ia tak mengerti tugasnya di muka bumi ini dan lupa akan mengingat pada sang pemilik hidup kita. Padahal mereka gunung-gunung itu juga bertasbih pada Allah

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, (Q.S As Shaad :18)

sungguh kumerasakan tasbih mereka dengan suara gemuruh angin ketika perjalanan dari kalimati menuju puncak Semeru di sepertiga malam terakhir… hening sekali, sungguh malu kami semua kepada mereka yang senantiasa bertasbih pada Allah, pepohanan itu seakan tak henti bertasbih pada Allah dengan ketundukan yang penuh pasrah sehingga ia mampu memberikan manfaat pada manusia

“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata” (Q.S Qaaf :50 )


membaca surat Qaaf ayat 50 mereka tanaman, gunung diciptakan Allah hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia, maka akankah kita selalu mengkhianati apa yang telah Allah berikan kepada kita? Mereka memberikan banyak manfaat kepada manusia, sedangkan kita para manusia sudah berusaha apa untuk memberikan manfaat lebih untuk kehidupan kita ni?

Sungguh kesempatan berharga sekali ketika kubisa selangkah demi selangkah menapaki jalan menuju puncak itu walau dengan tertatih, terluka dan butuh banyak istirahat sebab nafas yang terengah-engah ketika menapaki pendakian… sungguh sulit bagi yang merasa fisik kurang mampu namun ada azzam dan tekad yang kuat dalam jiwa untuk terus melanjutkan perjalanan ini.

Ada harap besar ada tujuan pasti mengapa kuharus lanjut ya demi Allah, karena Allah sebab cinta Allah dengan melihat ciptaanNya dari atas untuk bersyukur kemudian menjawab penasaranku mengapa ya gunung ga mau menerima amanah itu??? Benar pula ketika kuberada diatas walau belum sampai puncak Mahameru namun sudah di hamparan berpasir … kulihat di bawah sangat indah sekali, sangat cantik, elok, mempesona dengan begitu kuasa Allah menciptakan tumbuhan, sungai hutan, perkampungan itu terlihat semua dari atas, beberapa bukit terlihat sekali diatas… AAAAAAAAAAAAHHHHH SUNGGUUUUUUUUUH…

kita ini sangat kecil sekali tak pantas sedikitpun kita sombong… ketika kaki melangkah di hamparan pasir itu ada rasa syukur, haru, malu, tunduk bahkan takut yang menjerat jiwa. ALLAH semoga Engkau membantu kami untuk tidak sombong berjalan di muka bumi ini

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Q.S Al Israa:37)


Iya kumerasakan sekali ayat diatas ini sungguh SANGAT tak pantas sekali kita sombong karena kita tak akan mampu sampai setinggi gunung itu kenapa?
Mendakinya saja butuh hampir lebih 20 jam-an menuju atas.
Kemudian apa yang pantas kita sombongkan… Astghoufirullah hal adzim… sungguh dzalim manusia ini.

Pelajaran berharga untuk diriku dan saudaraku semua yang telah berusaha menapaki jalan pergunungan menuju semeru, yang mulai awal perjalanan dari ranu pane menuju ranu kumbolo saja ditempuh dengan perjalanan sekitar 6 jam lebih kemudian dilanjut dari ranu kumbolo menuju kalimati membutuhkan sekitar 5jam-an kemudian sepertiga malam terakhir melanjutkan menuju puncak sekitar 6jam-an….

Hikmah 1 : Hikmah perjalanan/ perjuangan

Hikmah apa sesungguhnya yang bisa kita raih dari perjalanan ini? Sungguh klo kita tidak punya tujuan yang jelas pasti kita sudah menyerah di bawah dan tak akan mau dan mampu untuk melanjutkan perjalanan.

Menuju puncak, mencapai cita-cita itu tidak mudah sungguh dibutuhkan perjuangan yang penuh ekstra apalagi menapaki jalan naik, seperti logo nike √ ya klo kita hendak naik mutlak dibutuhkan perjuangan lebih kuat,

benar kata ustad Anis Matta ada 3 prinsip agar kita bisa naik yang pertama adalah minta pertolongan Allah, kedua menguatkan ukhuwah ketiga adalah bekerja ekstra keras ….

Nahhhhh…. Kita telah menstimulasikan itu semua dari pendakian kemarin bukankah ketika kita mulai lelah, capek apa yang menggairahkan kita untuk terus lanjut ya… Allah.. terus berdzikir dan minta pertolongan Allah sehingga Azzam kita kuat terpatri dalam dada,

nah yang kedua menguatkan ukhuwah, jelas terasa ketika ada saudara kita yang kesulitan unt menapaki jalan itu, kemudian bukankah kita harus terus menjaga, memotivasi bahkan pun menolongnya, tak ada satupun diantara kita menyalahkan mereka, bahkan diantara kita saling menanggung beban bukan?
Seperti rukun ukhuwah itu kan?

Kemudian yang ketiga prinsip menuju puncak adalah KERJA KERAS …. Wah ini jelas banget, coba kita rasakan kita jalan hampir 24jam-an lebih dengan istirahat tidak lebih dari 6 jam.

Dan ternyata kita berusaha untuk bisa mengalahkan hawa nafsu kita untuk tetap terlelap tidur, kita rela meninggalkan slipping bag kita hanya demi menuju puncak, padahal tidur serasa lebih nikmat, namun itu semua kita abaikan walau kaki harus sakit, tangan harus menggaruk pasir.. sakit.. jelas…. Tapi mengapa kita mau melakukan?

Ya sekali lagi karena kita punya tujuan, impian yang jelas begitu… masih teringat kata ustad Anis matta jika kita punya tujuan, mimpi, cita-cita kemudian selalu kita pikirkan bagaimana untuk mencapainya maka pasti kita ada jalan untuk mencapainya, sama dengan pendakian ini bukan? MAKA SESUNGGUHNYA kita SANGAT MAMPU UNTUK BEKERJA KERAS kemudian berusaha menjauhkan lambung kita dari tempat tidur…

liat kita sudah berusaha menstimulasikan 2 hari itu bukan? Alangkah beruntungnya kita jika stimulasi 3 prinsip menaik dapat kita gelorakan dalam jiwa dan terus kita pompa untuk kita laksanakan …. YA KITA PASTI BISA …. Saling mengingatkan… dan ingatlah stimulasi ini….

Lagu jejak ini sedikit penyemangat bagi kita untuk kedepannya yang sempat sedikit kita stimulasikan :

Menapaki langkah-langkah berduri, Menyusuri rawa lembah dan hutan
Berjalan diantara tepi jurang , Semua dilalui demi perjuangan
Letih tubuh di dalam perjalanan , Saat hujan dan badai merasuki badan
Namun jiwa harus terus bertahan , Karna perjalanan masih panjang
Kami adalah tentara Allah , Siap melangkah menuju ke medan juang
Walau tertatih kaki ini berjalan , Jiwa perindu syahid takan tergoyahkan
Wahai tentara Allah bertahanlah , Jangan menangis walau jasadmu terluka
Sebelum engkau bergelar syuhada , Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah
By.IZZIS dengan judul asli JEJAK

Hikmah 2 : Kehidupan pendaki di Pegunungan

Entah mengapa kumasukan salah satu yang kutemui para pendaki itu menjadi sumber inspirasi dalam tulisan ini.

Unik saja dan tertarik saya untuk mengabadikan kehidupan mereka di sini sapa tau kalau ntr kulupa disini bisa jadi pengingat,. Ya entah mengapa setiap perjalanan baik berangkat maupun pulang selalu bertemu dengan para pendaki yang ramah, penuh senyum selalu menyapa bahkan “itsar” pun sangat diperlihatkan jauh dari sikap keangkuhan, sangat harmoni dalam bumi perkemahan itu, hatta kita baru kenal, kita bisa mendapat banyak hal, contoh saling membantu dalam makanan, ngobrol sana sini yang akhirnya nyambung walau cuman baru kenal detik itu, seakan semua yang berda di situ adalah saudara, saling menolong, berbagi dan memotivasi, jadi ya selalu tersenyum terus lah ketika menapaki jalan dan bertemu banyak pendaki.

TULUS terlihat di mereka sebab kemungkinan mereka punya banyak cita-cita mulia… sempat bawa bendera partai dan mereka menyapa “dari PKS ya mbak, saya kira dari HTI” kemudian kami jawab bareng iya mbak PKS .. pendaki lain menjawab klo saya gerindra mbak… keberanian menyapa… walau kita tak tau dalam hatinya yang jelas diantara pendaki itu terlihat senyum ketulusan diantara mereka dan mungkin bisa jadi mereka memiliki soliditas yang tinggi unt sesame timnya… SALUT.. SEMANGATnya


Hikmah 3 : Kehidupan Masyarakat di Pegunungan

Kalo ini kuperoleh dari perjalanan berangkat dan pulang menggunakan kendaraan, sebanarnya masyarakat pegunungan ini jiuga saya temui di daerah tengger menuju bromo dan perjalanan menuju Semeru itu membuat diri semakin takjub akan kehidupan Cahgun (cah gunung) mereka bisa bertahan hidup di gunung,

lumayan banyak lho penduduknya, setelah melewati daerah menuju coban pelangi kita mendapati perkampungan yang sangat padat di daerah pegunungan. Mereka begitu sibuk dengan urusan pertaniannya,

iya …. Mata ini sangat dimanjakan dengan berbagai tumbuhan hijau, tanaman, sayuran, ada di sini merekalah pemasok sayuran, buah-buahan menuju kota. Banyak ibu-ibu yang mencangkul di sana, mungkin sangat biasa bagi mereka ibu-ibu itu mencangkul ya…. Seakan kehidupan mereka terus untuk memberikan manfaat dengan kegiatan mereka itu…. Nah nth tiba2 di dalam benak terfikir apakah mereka tersentuh pengajian ya?
Kalo dari luar pasti ia hanya nerima dari televisi saja, mungkin mereka ngaji bahkan mungkin lebih kusyu’ dari kita, lebih takwa dari kita, namun terfikir adakah tarbiyah masuk ke masyarakat situ?

Kira-kira klo masuk sapa ya yang berani dan mau menginjakan kaki untuk menyebarkan islam di sana? Entah apa bagaimana caranya… semoga ada dan ada yg berani, apakah mungkin ya jika suatu saat santika maupun kepanduan jika sedang melakukan ekspedisi perjalanan mungkinkah bisa dilakukan bersamaan dengan direct selling entah itu daerah pegunungan maupun daerah pesisir kemudian mengadakan ta’lim bersama di daerah pegunungan maupun pesisir, aaah mungkin mereka sudah melakukan dan aku saja yang tertinggal , tpi klo tiba2 ada ta’lim besar2an mungkin tidak ya? Seperti para misionaris dulu mengepung malang selatan….

Semoga mendapat kesempatan

HIKMAH 4 : Menapaki kisah sahabiyah

Ya… ini penting juga ditulis sebab mendaki itu pun dilakukan oleh Rasulullah dan Abu bakar saat hijrah, kemudian kita ingat betul bukan dengan asma’ biti abu bakar yang dijuluki sebagai “dzatun nithoqoin” (pemilik dua ikat pinggang) sebab apa bliau mendapat julukan itu pastinya kita masih ingat bukan karena ia harus menaiki bukit untuk mengantar makanan dan dia menyobek sabuknya menjadi dua yang satu digunakan untuk sabuk yang satunya digunkan untuk tempat makanan padahal waktu itu ia tengah hamil bukan?

Subhanallah… betapa malunya kita, ketangguhan asma’ membuat kita tertunduk…. Semoga dengan mendaki ini sebagai sarana untuk latihan yang kemungkinan suatu saat kita harus seperti itu.

Kita tau juga Sumayyah syahidah pertama sebab memperjuangkan islam, dia mau disiksa, berani sakit.

Kemudian Nusaibah yang sangat gagah berani membela Rasulullah sehingga ia terkena tusukan pedang lebih dari 12 kali hanya karena melindungi Rasulullah.

Nah semoga dari pendakian ini kita tidak lagi menolak jika ada amanah dakwah datang, jika kita mulai di luncurkan kemanapun… semoga tidak menjadi akhwat yang manja.. dan semoga kita mampu meneladani sahabiyah-sahabiyah tersebut sehingga kelak kita bisa bertemu dengan mereka. Aamiin


HIKMAH 5 :SARANA perkuat Ruhiyah

Pendakian ini tepat sekali menuju sepekan ramadhan, persiapan fisik yang berusaha kita lakukan untuk menyabut ramadhan ini…

Malu jika kelak di bulan ramadhan kita tidak mampu berdiri lama-lama untuk melakukan qiyamul lail, sedang kita sebenarnya bisa sebab dari pendakian itu kita telah membuktikan kita bisa berdiri bahkan berjalan sekitar 6jam an di sepertiga malam terakhir, yang katanya sesungguhnya pendakian itu yang sangat mempengaruhi adalah ruhiyah kita kata pemandu kami 10 %fisik dan 90 % adalah ruhiyah…. Tapi ga tau tu teorinya darimana …

nah sungguh malu jika kita mudah mengantuk saat melakukan ketaatan, kita berani terluka, sakit saat pendakian masak kita untuk ibadah tidak berani untuk totalitas? Kita lihat Rasulullah sampai bengkak tumitnya sebab ibadah, sedang kita sakit kaki kita Karena pendakian dan tumit kita gunakan untuk menumpu saat menuruni pasir sehingga tersa sakit… nah…. Mungkin ini tak seberapa bila dibanding dengan di akhirat kelak.

Mungkin sangat sakit jika anggota tubuh kita tidak kita gunakan menuju ketaatan, saudaraku ramadhan sudah di depan mata, mari kita perkuat azzam, perkuat target seperti kita perkuat azzam saat hendak menuju puncak…..

saatnya kita menuju puncak yang sesungguhnya, puncak menuju cinta ALLAH, PUNCAK KETAATAN, puncak KETAQWAAN itu…. Mari mulai mengejar target itu…. Sampai jumpa di puncak ketaqwaan… di I’tikaf2 kita kelak ketika ngantuk tengah malam kita ingat bahwa kita pernah menyiapkan fisik ini …. SELAMAT MENGELOLAH RUHIYAH DENGAN CARA YANG TERBAIK….

Jazzakumullah kepada DPD PKS KAB Malang yang telah memberikan kesempatan dan support yang luar biasa kepada kami pora SANTIKA , kami tau tak semua DPD memberikan peluang ini.. semoga ini semakin menguatkan kita untuk terus memperjuangkan kemanangan dakwah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar